Sabtu, 01 November 2008

Siapkah Anda di MLM?

Semua yang namanya bisnis perlu waktu untuk sampai ke tahap kesuksesan. Berapa waktu yang lumrah hingga kita menentukan bahwa kita telah gagal? Apakah tiga bulan, enam bulan, satu tahun atau bahkan tiga tahun?

Tak ada patokan pasti, berapa waktu yang mesti kita siapkan dalam meniti bisnis. Bagi yang beragama islam, mungkin satu tahun dimana saat lebaran tiba, maka berharap kehidupan di tahun berikutnya akan lebih baik.

Belajar, apapun bentuknya, perlu waktu. Belajar secara fisik kadang butuh waktu lebih lama dibandingkan belajar secara mental. Awalnya, mungkin sedikit sulit mempersiapkan diri untuk mulai berbisnis. Ketika kita sudah menentukan, butuh waktu lebih lama lagi untuk belajar menekuni bisnis itu sendiri.

Memulai suatu bisnis, kita harus memastikan bahwa tujuan kita adalah untuk menjadi seorang pelaku bisnis. Perolehan uang banyak dalam waktu singkat tak bisa dijadikan tujuan awal saat memulai bisnis, mengapa?

Sebut saja Gebi, karyawati yang berhenti bekerja kantoran dan mulai mencoba macam-macam bisnis. Ia ingin sekali menjadi seorang pemilik bisnis, ia tak mau selamanya menjadi karyawan yang tergantung sepenuhnya pada perusahaan tempat ia bekerja. Gebi ingin dapat memiliki uang banyak sekaligus waktu luang untuk menikmati uang tersebut.

Baru setelah tiga bulan mencoba menjalankan bisnis, Gebi tidak memperoleh pendapatan seperti yang diinginkannya. Ia pun mulai mencari lowongan kerja kantoran lagi.

Apa yang salah dari cerita di atas? Yaitu karena Gebi berpatokan pada uang yang di dapat. Tapi ia tak memperoleh uang yang diharapkan dalam rentang waktu tiga bulan, lalu merasa bahwa ia telah gagal berbisnis. Sikap itu tak bisa disamakan dengan mereka yang mempunyai alas an kuat untuk menjadi pelaku bisnis.

Jika seseorang sudah menentukan untuk tak mau selamanya menjadi karyawan dan mengerti bahwa itu berarti ia harus memulai suatu bisnis sendiri, uang yang ia hasilkan dalam waktu tiga bulan pertama tersebut tak akan mempengaruhinya untuk lalu memutuskan kembali bekerja kantoran.

Jika keinginan untuk menjadi pelaku bisnis lebih kuat dari sekedar mencari uang cepat, maka ia akan tetap bertahan demi membawa bisnisnya kearah kesuksesan.

Seiring bertambahnya usia, maka makin sulit kita melupakan hal-hal yang telah kita pelajari sekian lama, itulah sebabnya Gebi lebih memilih untuk kembali bekerja kantoran. Karena ia sudah terbiasa merasakan terjaminnya hidup dengan bekerja kantoran, dan kenyamanan hidup yang diakibatkannya. Sementara ia baru memiliki tiga bulan pengalaman dalam berbisnis. Itulah salah satu alasan kenapa banyak orang akhirnya kembali ke dunia kantor.

Lalu apakah mempunyai bisnis perlu modal mahal, karena kita tetap harus punya uang untuk kehidupan sehari-hari? Benar, bagaimanapun ada harga yang mesti dibayar selain dalam bentuk materi, seperti waktu dan mental yang kuat. Apa artinya pengorbanan untuk hidup di bawah garis standart pada beberapa tahun pertama, bila akhirnya kita mampu mencapai kesuksesan sejauh pendapatan yang tak terhingga dan waktu luang yang tak terbatas?

Beruntunglah mereka yang saat ini masih menjadi pekerja kantoran, namun terbuka pikirannya untuk memulai suatu bisnis. Mereka bisa mengandalkan uang gaji bulanan untuk kebutuhan sehari-hari, sambil menggeluti bisnis sampingan. Bisnis sampingan lazim memerlukan pengorbanan waktu. Contohnya saat pulang kerja, masih harus menjalankan bisnis lagi. Melelahkan memang, tapi bukankah hasilnya sebanding dengan jerih payah?

Tetap bekerja kantoran sambil mulai merintis bisnis adalah cara terbaik, hanya bila si pelaku sadar benar bahwa tujuan utama adalah untuk membesarkan bisnisnya. Sehingga apapun yang terjadi, ia tak akan meningggalkan bisnis lalu pasrah untuk terus menjadi karyawan seumur hidupnya.

Dalam prosesnya, Anda perlu melupakan kenyamanan dan keterjaminan kerja kantoran. Sehingga pikiran Anda kian terbuka lebar untuk menerima masuknya diri ke dunia bisnis. Hingga tiba masanya, setelah proses yang demikian panjang, Anda akan mendapatkan diri Anda telah berada pada posisi seseorang yang berjiwa wirausaha.

Hal penting yang harus diketahui adalah bahwa dalam proses mencari jiwa wirausaha, akan terjadi banyak kerugian dan kesalahan. Tapi lagi-lagi, kerugian bukanlah akhir segalanya. Kesalahan adalah proses dari pembelajaran. Anda belajar dari kerugian, dari kesalahan yang dibuat. Itu juga berarti bahwa Anda tak akan belajar jika tidak pernah merugi atau membuat kesalahan.

Kegagalan benar-benar bisa disebut kegagalan ketika Anda berniat untuk berhenti setelah menghadapi kerugian, atau telah melakukan kesalahan tapi tidak memperbaikinya. Orang yang berhenti setelah melakukan kesalahan pertama berarti gagal untuk belajar.

Gambaran di atas merupakan salah satu alasan utama mengapa pelaku bisnis Multi Level Marketing gagal berbisnis. Mereka lebih menginginkan untuk memiliki uang banyak dalam waktu cepat daripada menginginkan dirinya menjadi seorang pelaku bisnis.

Bisnis MLM merupakan satu jenis bisnis yang memberikan berbagai kemudahan. Modal yang relatif kecil, sistem yang sudah terbentuk, dan bisa dijalankan paruh waktu. Tanpa komitmen, tanpa tujuan yang benar, berarti Anda tidak memberi kesempatan pada diri sendiri untuk menemukan jiwa wirausaha. Siapkah Anda berkomitmen menekuni bisnis MLM untuk membawa diri menjadi seorang pelaku bisnis?

Sumber: LEADER Edisi 6/20 Agustus-20 September 2007

Upline Tahan Banting

Menjadi seorang Upline yang tangguh, Handal dan berprestasi di MLM perlu menjalani beberapa tips-tips tertentu. Tips yang bisa menunjang diri untuk terus berkembang dan selalu antusias dalam menjalani bisnis, sehingga diharapkan setiap jaringan maju pantang muindur dan tidak cepat patah arang. Rintangan dan tantangan sebagai seorang upline cukup banyak dan tidak cukup sukar untuk dilalui, maka ketabahan dan kelapangan hati menerima segala tantangan yang ada adalah hal utama menuju kesuksesan.

1. Menjadi Konsumen Setia

Distributor MLM tak hanya wajib menjual, tapi juga harus menggunakan produk dar MLM yang dijalani, sehingga khasiat dan kegunaan dari produk tersebut benar-benar dirasakan sendiri. Hal itu perlu karena Anda bisa dengan nyaman menjalani bisnis MLM, dan yang terpenting saat menawarkan kepada konsumen atau prospek, bisa dengan mudah dan percaya diri menjelaskannya secara efektif, bayangkan, betapa malunya jika calon prospek bertanya, “Bagaimana dengan Anda, apakah juga menggunakan produk yang Anda tawarkan ini?” dan jawaban Anda “Belum”. Yakin sekali, mereka tak akan tertarik, karena Anda tidak mempresentasikan diri dengan baik.

2. Terus Belajar

Leader MLM yang sukses menuai passive income karena banyak belajar. Banyak cara dilakukan, salah satu yang mudah adalah dengan sering membaca buku-buku terkait pengembangan bisnis MLM. Misalnya membaca buku-buku karangan Robert T. Kiyosaki (Cashflow Quadrant, Rich Dad Poor Dad, Business School, Retire Yaung Retire Rich), serta masih banyak lagi.

3. Menyertakan Contoh

Jika Anda baru pertamakali atau belum lama menekuni sebuah bisnis MLM, maka teknik dengan menyertakan contoh upline yang sudah sukses merupakan suatu langkah yang harus diambil. Di sini, Anda menawarkan sebuah peluang bisnis MLM dengan cara memberikan contoh kepada calon prospek. Selain itu juga dengan memperkenalkan siapa saja upline atau leader di jaringan yang sudah sukses dan siap sedia membantu, memotivasi calon downline, serta memberikan penjelasan dan berbagi pengetahuan. Karena lumrah terjadi, kebanyakan calon prospek yang dipresentasikan selalu bertanya siapa saja yang sukses, berapa lama waktu yang ditempuhnya, bagaimana caranya, dan sebagainya. Jika Anda baru memulai, sudah pasti bukti belum begitu mendukung, maka jalan satu-satunya adalah menyertakan upline, mengajak prospek ke acara presentasi dan acara motivasi pengembangan bisnis.

4. Bergotong-Royong

Di bisnis MLM, mustahil meraih kesuksesan dengan jalan sendiri tanpa bantuan orang lain. Karena sesuai namanya, multi level marketing erat kaitannya dengan bisnis secara kekeluargaan, sepaham dan sevisi. Jadi yang mesti dipelihara setiap anggota jaringan adalah berusaha membentuk teamwork yang solid dan mempunyai jadwal terencana.

Tak ketinggalan, menjalin komunikasi yang baik dengan upline, leader, dan dowline secara terus menerus. Hal ini penting sekali karena bisnis MLM bermain dengan waktu, informasi, serta kecepatan. Tanpa adanya komunikasi yang terorganisir, Anda akan terlambat memonitor informasi terbaru, terlambat bergerak dan terlambat untuk melakukan percepatan bisnis. Lalu apa akibatnya jika menjalankan bisnis MLM tanpa gotong-royong? Pasti Anda akan kembali ke selera asal, jiwa entrepreneurship kembali padam dan kembali seperti semula.

5. Efektitas Media Penunjang

Dalam menjalankan bisnis MLM, siapapun disarankan untuk kreatif dan penuh inovasi. Yaitu memaksimalkan media penunjang dari perusahaan berupa brosur produk, kesaksian, brosur marketing plan atau kaset-kaset. Kemudian bagikan ke relasi, teman, serta siapa saja yang tertarik dengan peluang bisnis Anda dengan cara meminjamkan agar dipelajari. Jika jarak Anda jauh dengan mereka, lewat sarana email mungkin bisa menjawab semua itu. Sudah banyak penyedia layanan email yang bisa digunakan, bisnis Anda pun seolah tak memiliki batasan jarak.

Lalu Anda pun bisa melakukan inovasi dan kreatif sendiri, yang terpenting adalah bagaimana agar bisnis yang ditawarkan terkesan menarik dan mempunyai prospek masa depan yang bagus. Acara presentasi, seminar-seminar, acara sharing, merupakan hal vital di bisnis MLM. Acara presentasi bisa diadakan bersama rekan-rekan satu tim. Dengan begitu Anda dan jaringan semakin mempunyai peluang besar untuk penetrasi jaringan.

6. Visi ke Depan

|Ingat dan selalu dicamkan bahwa tidak ada kata gagal, yang ada hanya kesuksesan yang tertunda. Selalu melihat orang lain yang sukses di MLM, dan selalu tanamkan di dalam hati pertanyaan, “Kalau mereka bisa Kenapa saya tidak?” Dengar dan tampung segala cita-cita downline, sesuaikan dengan impian Anda, satukan dalam langkah dan bergerak maju seperti leader-leader MLM lainnya. Jangan melihat ke belakang, lupakan masa sulit, terus maju dan selalu menyenangi setiap langkah yang ditempuh bersama jaringan. Di bisnis apapun, akan berhasil.

Jika senantiasa disertakan perasaan “senang” ketika menawarkan ke orang lain. Semua kendala yang Anda hadapi adalah sebuah proses dari keberhasilan yang akan diraih. Jika ditelisik lebih dalam, sebenarnya mereka bukan menolak dengan apa yang Anda tawarkan, mereka hanya belum membuka diri penuh untuk Anda. Maka dari itu, buka impian mereka, coba samakan visi dan persepsi, baru kemudian jelaskjan bisnis MLM Anda.

7. Duplikasi

Di bisnis MLM, langkah terakhir ini sangat penting untuk percepatan jaringan bisnis. Tanpa adanya semangat dupliksi jaringan, bisnis MLM akan berjalan lambat, jadi bagaimana agar bisnis MLM mengalami percepatan yang baik? Lakukan langkah demi langkah diatas dengan benar, dan pahami karakter downline. Anda harus pintar memadukan karakter Anda dan jaringan layaknya seorang koki membuat masakan. Jika terdapat member yang hanya senang menjadi konsumen, perlakukan sebaik-baiknya. Jika downline Anda bisa menyelesaikan langkah menjadi konsumen setia, terus belajar, menyertakan contoh, sudah sepantasnya Anda memahami dan bisa membantu mereka untuk mencoba bergotong-royong dan seterusnya.

Sumber: LEADER Edisi 6/20 Agustus-20 September 2007

Dengarkan Kebutuhan Prospek


Ketimbang Anda terlalu mendominasi pembicaraan terhadap prospek, lebih baik Anda mendengarkan apa kebutuhan prospek, dengan melakukan proses tanya jawab yang berkualitas. Hasilnuya, menurut Todd Duncan, akan sangat signifikan pada proses penjualan yang Anda lakukan.

Todd Duncan telah lebih dari dua puluh tahun melakukan penelitian terhadap para pebisnis yang sukses, terutama mereka yang melakukan Home Business. Ia telah melahirkan sejumlah buku, salah satu di antaranya yang menjadi best seller adalah High Trust Selling.

Todd terus melakukan penelitian terhadap mereka yang telah meraih sukses di berbagai bidang bisnis dan kehidupan. Ia menyaring hasil penelitiannya dan mengubahnya menjadi suatu program yang kemudian diajarkannya kepada para profesional.

Untuk bidang penjualan, ia telah melakukan penelitian dengan melakukan wawancara terhadap 470 salesman berpenghasilan 350 ribu dolar AS sampai 3 juta dolar AS pertahun. Dari hasil wawancara tersebut ia menemukan dan menyimpulkan bahwa kegagalan yang terjadi dalam proses penjualan disebabkan oleh para sales itu sendiri karena pada saat melakukan prospekting mereka menjadi terlalu antusias, terlalu melebih-lebihkan.

“Para sales yang mengalami kegagalan pada saat proses penjualan juga mereka yang terlalu banyak memberi komentar dalam proses interaksi yang terjadi. Kegagalan transaksi juga terjadi pada para sales yang terlalu banyak memohon. Intinya ketika proses penjualan berlangsung, mereka tdk menciptakan kepercayaan,” papar Todd.

Menurut Todd ada beberapa strategi yang harus dilakukan untuk meraih kepercayaan prospek. Salah satunya adalah membuat segala sesuatunya menjadi semudah mungkin. “beberapa salespeople berbicara terlalu banyak, tetapi jarang mendengarkan. Berbicara tanpa mengetahui apa kebutuhan dan apa yang berharga bagi konsumen, jelas akan menghilangkan sebuah peluang bisnis,” tegasnya.

Menurut Todd Duncan, seorang pelaku bisnis harus tahu bagaimana cara menjual. Untuk itu seorang pelaku bisnis harus mengetahui siapa yang akan dihubungi atau menghubunginya. Para pelaku bisnis yang sejati juga harus mampu mengatasi masalah, mencari relasi baru dan melakukan follow upline. “Yang paling penting para pelaku bisnis harus selalu kreatif menciptakan sesuatu yang berharga. Saat melontarkan pertanyaan, mereka harus sungguh melontarkan pertanyaan yang penuh arti,” jelas Todd lagi.

Mengembangkan pertanyaan sebuah proses tanya jawab adalah hal penting karena hanya melalui hal ini kebutuhan prospek dapat diketahui. “Dengan bertanya bisa digali produk dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan prospek untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik,” tutur Todd.

Semakin Anda fokus terhadap prospek, saran Todd, maka Anda akan semakin sedikit bicara, akhirnya keberhasilan penjualan Anda akan diperoleh. Semua itu tak akan Anda ketahui kalau Anda tak bertanya kepada prospek, “Bagi saya mendengar merupakan sebuah disiplin, sebuah kebiasaan. Awalnya memang sulit dilakukan, tetapi setelah menjadi kebiasaan akan menciptakan kemajuaan yang berarti,” tukasnya.

Sumber : SUCCESS, Nomor 8/September 2007

Sepuluh Kesaktian MLM

Banyak kisah, umat manusia gagal mencapai tingkat kebutuhannya karena didera oleh kemiskinan. Ada berbagai cara dilakukan manusia untuk keluar dari kemiskinan, salah satunya menjalankan bisnis MLM.

MLM sebagai metode pemasaran modern memiliki banyak kelebihan. Minimal ada sepuluh kesaktian bisnis MLM, yakni :

Satu:

MLM menyediakan penghasilan tanpa batas. Adalah suatu fakta, di masyarakat ada orang yang mengalami “kemiskinan finansial”. Mereka miskin uang. Bisnis MLM serius dan tulus mengajak para distributor mencapai kemerdekaan finansial, karena bisnis ini memberikan penghasilan tidak terbatas. Perusahaan MLM tidak menghendaki distributor mengalami kerugian atau menjadi pecundang, sebab kerugian distributor adalah juga kerugian perusahaan.

MLM berbeda dengan bisnis konvensional atau profesi lain. Bekerja di instansi mana pun, gaji sudah ditetapkan setiap bulan. Ini pun tidak semua orang mendapatkan penghasilan lumayan. Begitu pula di bisnis konvensional. Di bisnis ini, para pengecer memamg meraih keuntungan besar. Tetapi kenyataan menunjukkan, pengecer tidak pernah kaya dari keuntungannyanya. Pasalnya, seluruh omzetnya sedikit, karena kapasitas menjual eceran memiliki keterbatasan tenaga dan waktu. Justru, prinsip MLM adalah memberikan hasil besar kepada siapa saja yang lebih banyak menjual, lebih banyak mengajak, dan membangun organisasi jaringan lebih baik.

Dua:

MLM mengatasi keterbatasan pendidikan. Adalah suatu fakta, di masyarakat ada orang yang mengalami “kemiskinan pendidikan”. Miskin sekolah. MLM justru memberikan ‘kemerdekaan pendidikan’, karena bisnis ini tidak membatasi tingkat pendidikan dan pengalaman seseorang.

Terjun ke bisnis MLM tidak membutuhkan latar belakang pendidikan dan pengalaman. Apa pun latar belakang seseorang, bila hari ini bergabung menjadi distributor, pada hari itu pula ia dapat memulai usahanya. Tidak ada istilah harus melewati proses percobaan dulu, tetapi langsung jalan. MLM menghargai prestasi, bukan ijasah.

Tiga:

MLM menyediakan jenjang karir, adalah suatu fakta, di masyarakat ada orang yang mengalami “kemiskinan karir”. Miskin profesi. Justru MLM adalah sebuah gelombang masa depan untuk meninggalkan kesuraman di masa lalu. MLM adalah sebuah pilihan atau alternatif yang menyediakan ‘kemerdekaan karir’. Karena di bisnis MLM ada jenjang karir. Setiap orang merdeka memilih jenjang karir yang diinginkannya.

Banyak unsur sosial dalam bisnis MLM. Bisnis ini tidak mengenal istilah ‘di sini tidak ada lowongan’. Justru bisnis ini mengundang banyak orang untuk bergabung. Pasalnya, prestasi seseorang tidak ditentukan oleh omzet pribadi yang tinggi, melainkan omzet kelompik yang besar. Bisnis ini menampung banyak orang yang membutuhkan tempat beraktifitas dan berkarier.

Tidak dapat dipungkiri, bisnis MLM senantiasa membuka pintu selebar-lebarnya terhadap siapa pun yang gagal masuk ke sebuah instansi atau perusahaan konvensional. Terbuka kesempatan bagi mereka yang ‘kalah’ duluan lantaran tidak memiliki keahlian atau pendidikan memadai.

Di bisnis MLM, siapa saja memiliki peluang yang sama mencapai jenjang karir tertentu. Tidak ada alasan bahwa yang memiliki ijasah sarjana akan menempati jenjang karir lebih tinggi dibanding lulusan SMA, SMP, SD, atau orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal.

Bisnis MLM tidak butuh banyak teori. Hampir tidak ada bedanya antara mereferensikan sebuah film yang bagus dan MLM kepada teman. Apakah dibutuhkan suatu skill tersendiri untuk merekomendasikan sebuah film kepada teman?

Empat:

MLM memberikan nilai-nilai spiritual. Adalah suatu fakta, di masyarakat ada yang mengalami ‘kemiskinan rohani’. Miskin rohani. Padahal, adalah sebuah kenyataan bahwa setiap manusia butuh sehat bukan saja isi kantongnya, tetapi yang lebih penting segi rohaninya. Bila bisnis MLM dikerjakan dengan amal ibadah, seseorang akan mengalami kemerdekaan rohani.

Budaya bisnis MLM tidak membelokkan banyak orang dari nilai-nilai pribadinya atau membelokkan aspirasi seeorang untuk mengekspresikan bakatnya. Justru MLM memperkuat nilai-nilai pribadi dan mengembangkan aspirasi seseorang mengekspresikan bakatnya. MLM justru mendorong seseorang mengandalkan kekuatan fokus untuk mencapai impiannya.

Lima:

MLM membangun mentalitas. Adalah suatu fakta, di masyarakat ada yang mengalami ‘kemiskinan mental’. Miskin kepribadian. Di bisnis MLM selalu ada pendidikan mentalitas. Misalnya bagaimana sikap mentalitas positif ditanamkan. Bagaimana memberikan motivasi dan presentasi dengan tulus, tidak peduli kata orang, dengan demikian seseorang mempunyai mentalitas yang kokoh dan kuat.

MLM memberikan kesempatan untuk mengembangkan kepribadian serta meningkatkan rasa percaya diri. Distributor yang terlatih menghadapi berbagai rintangan akan membuat dirinya semakin tangguh. Rasa percaya dirinya semakin kuat.

Enam:

MLM memperkokoh tingkat emosional, adalah suatu fakta, di masyarakat ada yang mengalami ‘kemiskinan emosional’. Dari bisnis MLM seseorang bisa mengontrol emosi, karena bisnis ini membutuhkan kesabaran, keuletan, dan ketabahan sehingga emosi terkontrol.

Di MLM, orang dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Sebab, setiap saat distributor selalu bercerita, menjelaskan, dan memberikan presentasi tentang bisnis yang dijalankan. Seseorang yang tadinya pemalu dan tidak mempunyai kemampuan berbicara di depan umum, akan semakin mahir berbicara. Berbicara adalah pekerjaan sehari-hari distributor.

Tujuh:

MLM membangun kesehatan. Adalah suatu fakta, di masyarakat ada yang mengalami ‘kemiskinan kesehatan’. Miskin sehat. MLM mendorong para distributor mencapai ‘kemerdekaan kesehatan’, karena bisnis ini mengajak orang hidup sehat.

Delapan:

MLM meningkatkan persaudaraan. Adalah suatu fakta, di masyarakat ada yang mengalami ‘kemiskinan sosial’. Miskin relasi, teman, dan silaturahmi. MLM menjadi jembatan untuk mencapai ‘kemerdekaan sosial’, karena bisnis ini senantiasa menambah persaudaraan dan memiliki banyak teman.

Melalui bisnis ini MLM, seseorang dijamin tidak mengalami kemiskinan sosial. Bahkan, unsur tolong-menolong sangat kental di bisnis ini. Jangan heran bila sponsor dan orang yang disponsori menjadi saudara.

Sembilan:

MLM memberikan kebebasan waktu. Adalah suatu fakta, di masyarakat ada yang mengalami ‘kemiskinan waktu’. Ia terikat atau dibatasi waktu. MLM memberikan ‘kemerdekaan waktu’, karena bisnis ini memberikan kebebasan menggunakam waktu sesuka hati.

Bisnis MLM tidak memiliki deadline pada pukul berapa seseoranng harus mulai bekerja. Dalam dunia kerja konvensional, sebut saja entah itu pegawai negeri atau swasta, jam weker acap memberi peringatan : pukul sekian Anda harus mulai bekerja. Bisnis MLM berjalan tanpa jam weker!

Sepuluh:

MLM memberikan kesempatan pensiun. Adalah suatu fakta, di masyarakat ada yang mengalami ‘kemiskinan masa depan’. MLM memberikan kesempatan pensiun muda, kaya, dan sehat. Kesempatan pensiun muda dan kaya dimungkinkan melalui marketing plan dan support system. Sehat dimungkinkan melalui produk-produk berkualitas.

Kualitas produk MLM dijamin. Apabila tidak sesuai spesifikasi, uang dikembalikan. Ini menunjukkan bahwa MLM bukan perusahaan tipu-tipuan. Adanya produk yang dijual menunjukkan bahwa MLM merupakan sebuah bisnis murni.

MLM sebagai sebuah bisnis masa depan sulit dibantah. Kini banyak perusahaan-perusahaan raksasa yang melirik bahkan menganggap MLM sebagai alternatif yang sangat menguntungkan.

Menjadi distributor MLM bukan ilusi. Kalau sebuah ilusi, mengapa ada yang mencapai kebebasan finansial tanpa harus repot mendirikan perusahaan?

Bisnis MLM memamg memberikan alternatif bisnis sendiri. Nyatanya, untuk bergabung menjadi distributor MLM, peserta cukup memiliki uang pendaftaran yang tidak terlalu mahal. Pengeluaran ini sekedar pengganti biaya formulir, pembuatan kartu anggota, serta penggantian ongkos cetak brosur dan leaflet. Sesudah itu, untuk menjalankan bisnisnya, ia membeli produk sebagai sampel berjualan atau dikonsumsi sendiri. Ia tidak perlu mengeluarkan modal sebesar menderikan sebuah perusahaan.

Sumber: LEADER Edisi 7/20 September-20 Oktober 2007

Network Marketer Seperti Manager

Di bisnis MLM, yang namanya memprospek adalah aktifitas mencari orang yang mungkin tertarik dengan peluang bisnis yang Anda tawarkan. Memprospek juga suatu proses menjadi seorang leader, yang dengannya Anda mulai merekrut orang lain agar ikut bergabung bersama.

Memprospek

Memprospek bisa dilakukan lewat berbagai cara. Misalnya saja melalui iklan di media seperti koran, tabloid, msjalah, email, dan sebagainya. Sedangkan inti dari memprospek adalah memperkenalkan peluang bisnis kepada masyarakat seluas-luasnya.

Memprospek secara umum diartikan sebagai awal dari satu atau dua proses merekrut, merupakan bagian terpenting dari keseluruhan proses karena menjadi tolak ukur seberapa banyak orang yang tertarik dengan tawaran bisnis Anda, dan memberi kesempatan menyortir siapa yang serius dan yang tidak.

Memprospek dapat dilakukan lewat dua atau tiga langkah pendekatan. Sebagai contoh, mengirimkan sejumlah email yang berisikan peluang bisnis MLM kepada beberapa orang yang memenuhi syarat dan merespon. Di email tersebut Anda mencantumkan biaya pendaftaran. Sebuah alasan ketika seseorang harus mengeluarkan uang untuk bisa bergabung dengan Anda adalah ia menyesuaikannya dengan nilai yang sudah Anda kirim. Ya, respon mungkin hanya segelintir, namun dengan begitu Anda telah memiliki beberapa orang yang memenuhi syarat dan tertarik dengan program peluang bisnis.

Langkah kedua setelah itu adalah mengirim sebuah paket informasi kepada responder, atau biasa disebut star-up. Setelah itu, mereka akan membayar sejumlah uang sebagai persetujuan biaya pendaftaran dengan senang hati dan merasa terlepas dari resiko.

Merekrut

Merekrut adalah tindakan menjual atau berbagi informasi mengenai peluang bisnis dengan orang lain, serta memberi keuntungan bisnis kepada responder. Merekrut bisa dilakukan secara langsung atau melalui telepon, namun yang paling efektif adalah secara langsung. Bagi sebagian besar orang, ketika mencari sebuah peluang bisnis, mereka ingin mempunyai hubungan pribadi dengan sponsor mereka. Maka cara tercepatnya adalah dengan bertemu langsung, atau jika terdapat hubungan jarak jauh bisa dikerjakan melalui telepon.

Merekrut umumnya dilakukan dengan membeberkan keuntungan-keuntungan bisnis MLM, kedua adalah menawarkan produk atau jasa. Membeberkan keuntungan-keuntungan bisnis berarti menyakinkan prospek tentang bisnis MLM Anda. Itu juga menyiratkan bahwa Anda menaruh perhatian kepada mereka mengenai kesejahteraan hidup, bukan kepada diri Anda sendiri. Di sesi merekrut ini Anda sebisa mungkin mencari tahu segala kebutuhan prospek, mimpi-mimpi yang ingin digapai, keinginan, harapan, serta cita-cita mereka.

Bagian tersulit dari merekrut adalah menjadi pendengar yang baik. Karena sangat mudah membiacakan bisnis dan diri sendiri, sedangkan mendengarkan orang lain amat susah dilakukan. Seperti diumpamakan orang bijak, bahwa Tuhan memberi kita dua telinga dan sebuah mulut untuk suatu alasan. Kita tidak akan mengetahui kebutuhan para prospek sebelum mendengarnya dari mereka. Cara mengetahui kebutuhan prospek bisa dengan menanyakan, “Apa yang Anda cari di bisnis ini?” “Apa harapan Anda dalam menggeluti bisnis ini?”

Jika Anda sudi meluangkan waktu untuk mendengarkan, dua contoh pertanyaan tersebut akan membuka wawasan mengenai kebutuhan-kebutuhan prospek. Umumnya, mereka kemudian akan membuka diri dengan menjawab dua pertanyaan tersebut. Setelah mengetahui beberapa kebutuhan prospek, kini tiba saatnya menyesuaikan keuntungan-keuntungan bisnis MLM berdasarkan kebutuhan, mimpi-mimpi, keinginan, harapan, dan cita-cita mereka. Dari semua itu Anda telah mempunyai visi, selanjutnya adalah bagaimana mentransfer visi tersebut kepada prospek-prospek.

Aspek yang berikutnya adalah menawarkan produk. Percaya atau tidak, hal ini sangat sukar dikerjakan jika di dalam hati masih terbersit rasa takut dan ragu-ragu. Takut? Ya, takut akan penolakkan. Langkah yang terbukti efektif untuk menimalkan penolakkan adalah dengan tidak menanyakan, “Apakah Anda akan bergabung?” atau “Apakah Anda mendaftar sekarang?” kecuali jika Anda telah mendengarkan kebutuhan, harapan, atau cita-cita yang telah mereka sebutkan.

Teknik melontarkan pertanyaan yang baik misalnya, “Apakah Anda melihat bisnis ini sebagai solusi agar dapat senantiasa berada di rumah bersama anak-anak? Atau, apakah Anda melihat bisnis ini sebagai jalan keluar yang tepat menuju kehidupan yang lebih layak?”

Jika jawabannya ya, pertanyaan yang mesti diajukan selanjutnya adalah, “Bagaimana Anda ingin memulainya?” jika jawabannya ya, di tahap merekrut ini Anda sudah melakukan hal yang tepat. Namun amat disayangkan, seringkali respon prospek adalah “Mungkin, aku tidak tahu,” atau jawaban menyakitkan lainnya. Disinilah bagaimana menjawab pertanyaan dengan baik sangat membantu. Di tahap ini Anda harus bertanya kepada upline jika tidak mengerti, perlu diingat, jika prospek menjawab “Tidak”, itu mungkin berarti tidak tepat timing. Anda perlu berkata kembali, “Jika Anda berubah pikiran, aku segera menjelaskannya kembali.”

Sponsoring

Sponsoring merupakan proses, bukan hasil akhir yang mutlak. Bagian pertama dari proses sponsoring adalah ketika seseorang ikut bergabung sebagai anggota. Itu hanyalah permulaan, karena masih banyak yang harus diselesaikan.

Sponsoring melibatkan pendidikan, latihan, motivasi, semangat, dan sebagainya yang dapat mengembangkan bisnis secara efektif. Sponsoring yang efektif akan menuntun prospek, menyediakan perangkat penjualan agar proses menciptakan jaringan bisa berjalan lebih mulus, dan mampu mengumpulkan informasi atau menjawab semua keluhan dan pertanyaan prospek.

Di bisnis jaringan ini, seorang upline akan mampu mewujudkan keinginannya, jika ia mampu membantu downline mendapatkan keinginannya. Menempatkan diri untuk menolong orang lain akan menciptakan banyak keuntungan-keuntungan lain. Banyak pengalaman mengungkapkan, ketika seseorang bersikap hanya untuk menghasilkan sejumlah uang bagi dirinya sendiri, ia pun tidak mengerjakannya dengan baik. Sebaliknya, jika diiringi niat untuk menolong orang lain agar sejahtera, maka semangat untuk mengerjakannya semakin berapi-api.

Sponsoring yang baik akan selalu berkonunikasi dengan prospek, entah secara langsung, melalui telepon, dan lain-lain demi memotivasi dan menyulut semangat jaringan. Saat melakukan sponsoring, Anda bukan lagi seorang buruh, melainkan telah berubah menjadi manajer, yang berarti mempunyai kewajiban mengatur sekumpulan orang dan bertanggung-jawab penuh. Dari mereka pula Anda memperoleh bonus-bonus atau komisi-komisi, baik itu dari segi finansial, atau secara kepemimpinan dan perkembangan pribadi.

Sebagian besar pebisnis MLM yang sukses menyarankan mencari sponsor. Di MLM Anda bukan sedang mencari seorang rekruter, melainkan seorang sponsor yang memperhatikan kesejahteraan seluruh jaringannya.

Sumber : LEADER, Edisi 6/20 Agustus-20 September 2007